Jakarta (ANTARA) - Pekan ini di Las Vegas, perusahaan teknologi di ajang teknologi terbesar dunia, Consumer Electronics Show (CES) 2026, memamerkan berbagai perangkat kesehatan wearable terbaru, mulai dari pemantau glukosa, pelacak tekanan darah, hingga fitness tracker.

Namun, yang kemungkinan besar tidak dibahas di pameran tersebut adalah bahwa gawai-gawai ini bisa menimbulkan masalah lingkungan yang sangat besar, lapor Tech Crunch, Selasa (6/1) waktu setempat.

Isu ini memang jarang mendapat perhatian. Padahal, studi terbaru dari Cornell University dan University of Chicago menemukan bahwa pada 2050, permintaan perangkat kesehatan wearable bisa mencapai 2 miliar unit per tahun, atau 42 kali lipat dibandingkan saat ini.

Baca juga: Skala ekonomi rendah dan volume sampah kendala olah sampah elektronik

Baca juga: Daur ulang limbah elektronik berpotensi ciptakan ekonomi sirkular

Jika cara pembuatannya tidak berubah, para penulis studi tersebut memperingatkan bahwa perangkat-perangkat ini dapat menghasilkan lebih dari satu juta ton limbah elektronik (e-waste) dan 100 juta ton emisi karbon dioksida dalam periode yang sama.

Hal yang lebih mengejutkan, masalah utamanya bukan pada plastik. Studi yang dipublikasikan di jurnal Nature itu menyebutkan bahwa papan sirkuit cetak (printed circuit board/PCB)—yang menjadi “otak” perangkat, menyumbang sekitar 70 persen dari jejak karbonnya. Penyebabnya adalah proses penambangan dan manufaktur yang sangat intensif.

Para peneliti mengusulkan dua solusi. Pertama, mengembangkan chip menggunakan logam yang lebih umum seperti tembaga, alih-alih mineral langka seperti emas. Kedua, membuat perangkat dengan desain modular, sehingga papan sirkuitnya bisa digunakan kembali sementara bagian luar perangkat diganti.

“Ketika perangkat-perangkat ini digunakan dalam skala global, pilihan desain yang tampak kecil bisa berdampak sangat besar.” tulis salah satu penulis studi tersebut.

Adapun perangkat kesehatan wearable mencakup berbagai gawai yang dikenakan di tubuh untuk memantau kondisi kesehatan, seperti jam tangan pintar (smartwatch) dan fitness tracker yang mengukur detak jantung, aktivitas, dan kualitas tidur, alat pemantau glukosa kontinu (CGM) untuk penderita diabetes, perangkat pemantau tekanan darah dan EKG berbasis wearable, cincin pintar yang melacak tidur dan kebugaran, patch kesehatan pintar yang ditempel di kulit untuk memantau data biometrik secara real time, dan masih banyak lagi.

Baca juga: Acer ajak masyarakat kelola e-waste lewat kampanye #SayangBumi

Baca juga: Erajaya kumpulkan sampah elektronik tekan emisi karbon

Baca juga: Kampanye Jaga Bumi berhasil daur ulang lebih dari 1.900 gawai bekas

Penerjemah: Pamela Sakina
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © Fokus Warta 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.